Kemenangan Atas Southampton Menunjukkan Sikap Mourinho

Kemenangan Atas Southampton Menunjukkan Sikap Mourinho

Kemenangan Atas Southampton Menunjukkan Sikap Mourinho – Raksasa London membuat penonton di St Marry’s Stadium terdiam, dan sikap Mourinho pada pertandingan itu seolah menjadi jawaban kritik atas perlakuannya selama ini pada Juan Mata.

Mata yang selama ini menjadi andalan Chelsea semenjak kedatangannya dari Valencia mendadak menjadi pemain pinggiran saat Mourinho menangani Chelsea untuk kali kedua. Dia adalah player of the year Chelsea dua tahun beruntun, tapi sekarang tak lagi menjadi penghuni starting line up.

Faktanya Mata memang masih menjadi kesayangan suporter Chelsea – tapi pertandingan yang berjalan lambat dan membosankan selama 53 menit di St Marry membuat kesabaran Mourinho padanya semakin menipis.

Fakta Mata

Juan Mata mencetak 20 gol dalam 64 pertandingan musim lalu bagi Chelsea dan dia dinominasikan menjadi pemain terbaik oleh PFA dan juga FWA tahun lalu.

Alis pendukung Mata mungkin naik keheranan melihat pertandingan itu, terutama melihat bahwa skor masih imbang tanpa gool dan Chelsea harus memecah kebuntuan, mereka butuh pemain yang bisa meruntuhkan pertahanan energik Southampton yang tampil tanpa kenal lelah.

Kita maju ke 37 menit berikutnya dimana Chelsea akhirnya mendapatkan kemenangan dengan nyaman, dan pahitnya bagi Mata, kemenangan Chelsea diinspirasi oleh pergantian dirinya. Pada pertandingan itu Mourinho mengganti Mata dan Andre Schurrle dengan Oscar dan Willian, dan Mourinho seolah memberi jawaban alasan dirinya membangkucadangkan Mata selama ini.

Tentu saja ini merupakan situasi yang sulit bagi fans Chelsea. Mata, dengan alasan yang bagus, adalah pemain favorit di Stamford Bridge, tapi tak ada seorangpun disana yang bisa mengganggu otoritas sang manajer kecuali seorang Roman Abramovich.

Untuk kembali mengenang ke masa lalu, jika Rafael Benitez masih menduduki kursi manajer dan dia membangkucadangkan Mata, maka protes akan bergema di Stamford Bridge. Namun sekarang adalah era Mourinho, dimana peraturannya dituruti oleh penghuni Chelsea, terutama saat keputusannya datang dengan kemenangan.

Setelah pertandingan manajer Chelsea mengatakan dengan jelas, beberapa kali, bahwa dia tak menginginkan Mata meninggalkan Chelsea. Pesannya jelas dan simpatik, kendati dia juga mengatakan bahwa sebuah pintu untuk Mata selalu terbuka dan mereka akan mempertimbangkan segala tawaran yang masuk. Mungkin klub seperti Paris St Germain yang akan membawanya.

Tapi yang menjadi aktor utama pada peristiwa ini adalah Mata sendiri, apakah dia bisa menunjukkan kesabaran, mengingat tahun ini adalah tahun Piala Dunia, atau dia sudah memiliki keyakinan tentang karirnya di Chelsea.

Yang jelas pada pertandingan melawan Southampton di tengah pekan, dia tak bisa melakukan komplain terhadap keputusan Mourinho.

Mourinho adalah seorang master yang oportunistik. Siapa yang dapat melupakan betapa krusialnya pergantian pemain saat dia memanfaatkan kondisi Sir Alex yang panas hingga mendamprat wasit di 16 besar Liga Champions musim lalu, dia dengan tenang memasukkan Luka Modric untuk menambah daya gedor saat melawan tim dengan 10 orang.

Sekali lagi dia membuktikan, bahwa selama di Inggris dia bisa bereaksi cepat untuk merubah strategi menjadi keunggulan bagi timnya.